THE SAMANTHA

by

Modiste Samantha Balikpapan a.k.a “Samantha Project” sudah menapak tahun kelima di 2019.  Tak terasa, ya. Mbak Samantha pun tidak mengira bakal keterusan terjun sebagai penjahit. Tapi kalau dirunut ke belakang, “DNA” menjahit sebenarnya sudah ada.

Sang ibu, yakni Sri Suwantiyah, yang awalnya mengusung nama Modiste Samantha di Yogyakarta, tahun 1968 lalu. Sebelumnya, Sri yang masih berstatus mahasiswi salah satu kampus negeri di kota pelajar tersebut memang sudah bisa menjahit dan menerima pesanan jahit dari teman-temannya.

Usaha jahit itu dibuka di rumahnya, Jalan Langenarjan Kidul 33 Yogyakarta. Sampai sekarang, Modiste Samantha sudah berumur separuh abad, dan masih berlokasi di alamat tersebut.

Nama “Samantha” terinspirasi dari penyanyi barat era 60-an bernama Samantha Jones, yang terkenal akan lagunya berjudul “No Regrets”. Sri Suwantiyah mengidolakan Samantha Jones. Selain bertampang cantik, Samantha juga merdu suaranya.

Seiring waktu, usaha jahit Samantha diteruskan anak-anaknya, meski Sri Suwantiyah (70) masih menjahit hingga sekarang. Bermula dari Mbak Luluk Sandra di tahun 2000-an, disusul Mbak Ida, lalu oleh Atha. Nama terakhir ini adalah Mbak Samantha, hehe. Mbak Samantha memulai usaha jahit tahun 2014.

Mbak Samantha belakangan “sadar” fitrahnya sebagai penjahit karena sebelumnya asyik bekerja sebagai jurnalis di Yogyakarta. Lumayan lama, enam tahun. Saat pindah ke Balikpapan tahun 2011, Mbak Samantha juga belum tertarik menjahit.

Setelah melakoni beberapa aktivitas, antara lain sebagai penulis lepas dan bikin manik-manik, Mbak Samantha akhirnya melirik ke mesin jahit. “Keterusan deh sampai sekarang. Ternyata ini passion saya,” kata Mbak Samantha.

Mbak Samantha sebenarnya sudah bisa menjahit sejak SD kelas VI. Masa remaja pun dilalui dengan membantu ibunya di “dapur jahit” agar bisa mendapat uang saku lebih. “Tapi dulu ya enggak menyangka akan jadi penjahit,” ujarnya.

Sri Suwantiyah juga tidak menyangka semua anaknya meneruskan usaha jahit. Menurut dia, usaha jahit bisa menjadi usaha menjanjikan asal dilakukan sungguh-sungguh. “Memang sibuk, dan bahkan cukup susah ketemu waktu luang. Tapi setidaknya itu semua bisa dilakukan di rumah,” ujarnya.

Berbeda dengan Samantha di Yogyakarta yang mengkhususkan diri pada lini modiste (jahit busana wanita), Samantha di Balikpapan sudah merambah ke tailor (jahit busana pria). Bahkan merambah pula ke shibori dan banyak aktivitas lain.

Seiring waktu juga, Mbak Samantha ingin mewujudkan mimpinya menjadi desainer. Karena itulah aktivitasnya juga kian bertambah dan bertumpuk. Dari mengikuti fashion show, trunk show, mengisi acara di radio, TV, pemerhati fashion, sampai bikin shibori. Silakan ditengok instagramnya di @samanthaproject

“Seru juga ya. Ternyata Mbak Samantha dari keluarga besar penjahit. Di Desa Galia belum ada penjahit. Tapi okelah, semoga ke depan anak-anak muda di Galia terinspirasi Samantha. Dan ada yang berminat jadi penjahit atau desainer,” kata Abraracourcix, kepala suku Desa Galia.

No tags
1 Response
  • Santi
    October 29, 2019

    Jadi menginspirasi aku ttg cerita perjalanan Sekar ….hmm…Sik…Sik….nyeduh teh kembang Telang sik ben waras…

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.