Sempat Jadi Jurnalis, Kini Atha Lebih Pilih Dunia Fashion

by

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Sejatinya dunia jahit-menjahit sudah mulai dikenal G Martha Nalurita sejak masih bayi. Maklum saja, Atha terlahir dari keluarga penjahit di Yogyakarta.

Ibunya membuka usaha modiste sejak 1969 dengan nama Samantha. Usaha keluarga itu berkembang hingga sekarang memiliki 15 karyawan. Atha, demikian dia biasa disapa akrab, juga belajar menjahit dari ibunya sejak duduk di bangku SD dan mulai menjahit baju-baju boneka.

Seiring usia, ia pun turut membantu ibunya secara serius. Semasa duduk di bangku SMA dan kuliah, Atha bertugas memasang payet untuk kebaya atau gaun pesta.Hanya saja keinginan menjadi penjahit tidak terlintas di benaknya karena ia suka dengan dunia tulis-menulis. Ketika itu, ia ingin menjadi wartawan.

Semasa kuliah ia sempat menjajaki dunia jurnalistik. Menjadi koresponden di Bisnis News kemudian lulus kuliah ia kerja di Harian Jogja. Begitu menikah dan diboyong suaminya, Lukas Adi Prasetya ke Balikpapan, ia pun berhenti menjadi wartawan.

Di sinilah Atha mulai iseng-iseng menjahit. Mulai dari yang mudah, menjahit celana boxer untuk suaminya sendiri. Ia beli mesin jahit manual merk Singer. Perlahan namun pasti, ia mulai menjahit blus, kemeja, dan lainnya dengan pola yang lebih sulit.

Bahkan sekarang ia mulai merancang sendiri baju-baju produk Samantha Project.

“Biasanya saya tanya ibu saya kalau bingung. Konsultasi lewat telepon saja walau setelah itu bingung mau diapain kainnya,” tutur Atha.

Mulai terbiasa, ia pun mengembangkan pola dan merancang sendiri busananya. Beberapa pelanggannya bahkan sudah menyebutnya sebagai desainer. “Sebenarnya saya malu kalau disebut desainer karena saya belajar kan cuma otodidak, tidak secara formal. Saya cuma menerjemahkan ide di kepala sesuai model yang saya suka,” ungkap Atha yang hobi piknik ke Pantai Tanah Merah ini.

Ia lebih suka menyebutnya dengan membuat karya.

Kini setelah nyemplung ke dunia fesyen dan memiliki lini busana sendiri, Atha merasa yakin dan akan konsisten ke jalur ini. Apalagi gaya busana yang ia buat masih terbilang jarang di Balikpapan bahkan Kalimantan Timur sehingga ia optimistis usahanya bakal berkembang. (*)

 

Penulis: Trinilo Umardini
Editor: Trinilo Umardini
Sumber: Tribun Kaltim

Selengkapnya baca di : http://kaltim.tribunnews.com/2016/09/10/sempat-jadi-jurnalis-kini-atha-lebih-pilih-dunia-fashion

No tags
1 Response
  • Domu D. Ambarita
    January 17, 2017

    Selamat mas pra dan mbak ata.

    Semoga sukses-jaya bisnisnya lan laris manis jualannya

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.