SEJARAH MATA NENEK

by

Sering kesulitan ketika memasukkan benang ke dalam lubang jarum? Saatnya memakai “Mata Nenek”. Eh, benda apa itu ya? Belum pernah denger? Kesannya kok rada-rada serem nama itu?

“Mata Nenek” hanya sebutan saja kok, untuk salah satu piranti pendukung menjahit yang bernama asli “needle threader”. Agak jauh ya translate-nya dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Mestinya kan “Grandma’s eye”.

Tapi ya sudahlah, telanjur begitu, tidak mengapa. Mata nenek lebih familiar di telinga, dan bagi sebagian orang juga mengingatkan ke nenek-nenek mereka yang pernah dilihatnya sedang menjahit.

Benda ini, yang berfungsi untuk menarik benang, panjangnya hanya sekitar 5 cm. Terbagi dua bagian yang sama panjang yakni yakni pegangan dan kawat baja super tipis/halus yang fleksibel. Tebal si Mata Nenek ini, tipis banget, hanya 0,05-0,1 cm, itu pun ketebalan bagian pegangan.

Harganya pun murah, Mbak Samantha beli di salah satu toko alat jahit di Balikpapan, cukup mengeluarkan Rp 5.000. Duit segitu bisa dapet enam keping mata nenek. Mungkin habisnya bisa bertahun-tahun, kecuali hilang, tercecer, satu demi satu.

Bagian pegangan adalah yang kita pegang dengan jari, terbuat dari logam/alumunium tipis, atau plastik. Sedangkan kawat tipisnya berbentuk berlian atau mata tombak. Berat satu keping Mata Nenek ini tak lebih 5 gram.

Ada beberapa gambar (cetakan) di bagian pegangannya, dan mbak Samantha lebih sering melihat cetakan gambar kepala perempuan dari sisi samping. Kalau yang plastik, enggak ada (cetakan) kepalanya. Kemana ya?

Gambar (cetakan) kepala itu ternyata bukan kepala nenek, melainkan kepala seorang ratu. Agaknya mesti menelusuri cerita soal piranti kecil ini, nih, biar rasa penasaran Mbak Samantha terselesaikan segera.

Setelah berselancar ke internet, ketemulah sedikit kisahnya. Oh ya ini alamat web-nya. https://www.ehow.com/info_8577598_history-needle-threader.html?utm_source=eHowMobileShare&utm_medium=email

Menurut penuturan di situs tersebut, tidak jelas kapan si mata nenek ini muncul. Namun desain dengan kepala ratu itu populer selama era Victoria (Victorian Era). Setelah tengok sana dan sini, era itu dalam sejarah Britania Raya sana, ada di rentang tahun 1837-1901. Saat itu semua hal di sana, maju pesat.

Awal 1900, di Amerika Serikat, sejumlah perangkat benang jarum dipatenkan. Masih menurut portal www.ehow.com ini, jarum-jarum otomatis pertama yang dimasukkan ke dalam mesin jahit, dirancang oleh Juki tahun 1978. Needle threader atau si mata nenek, sampai sekarang, masih banyak yang mempertahankan desain klasik Victoria.

Bagaimana cara menggunakan mata nenek, sudah banyak tutorialnya di youtube, silakan ditengok. Okei, mari kita kembali pada mengapa benda mungil ini bisa disebut mata nenek? Ternyata masih tidak ketemu alasan sahihnya. Tapi mari kita dekati istilah itu dengan sudut pandang awam.

Nenek biasanya memakai kaca mata lantaran kemampuan penglihatannya telah menurun. Di sisi lain, mata jarum ukurannya amat kecil, susah bagi sebagian orang berkacamata kalau memasukkan benang.

Karena kita butuh istilah yang mudah untuk mengalihbahasakan needle threader ini, maka “mata nenek” memang paling simpel. Apalagi ada cap (cetakan) mirip “kepala nenek” di pegangan alat itu, meski itu adalah “kepala ratu”.

Mbak Samantha sejak kecil juga sudah mendengar istilah mata nenek ini. “Alat ini mungil, mudah keselip. Dan kalau sampai hilang, repot,” kata Mbak Samantha yang berkacamata minus-silinder level rendah ini.

Iyalah, daripada menjilati ujung benang sembari mata mengernyit memperkirakan posisi lubang jarum sudah tepat untuk dimasuki benang, mendingan ambil si mata nenek.

Maaf ya ‘Nek, maaf.. “matanya” diambil sejenak.

No tags

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.