Pasarkan Kimi Lurik dan Ulap Doyo Lewat Media Sosial

by

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Dengan kualitas jahitan butik dan material yang kebanyakan juga homemade, Samantha Project membanderol produknya di kisaran Rp 200.000 ke atas.

Untuk blus minimal Rp 200.000 dan kimono panjang (outer) Rp 400.000. Saat ini Samantha Project masih memasarkan produknya lewat media sosial seperti Facebook, Instagram, atau ajang pameran di Balikpapan.

Segmen yang dipasar memang kelas menengah, mengingat bahan baku yang dipakai juga tak sembarangan.

Untuk produk busananya, Samantha Project hanya menggunakan kain lurik, belacu, shibori (teknik mewarnai kain putih dengan cara mengikat dan mencelupkan ke pewarna), katun kualitas premium, tenun, ullap doyo, dan batik nusantara (minimal batik cap).

Martha Nalurita, pemilik sekaligus kreator Samantha Project, juga tengah merintis kerja sama dengan situs belanja online khusus produk buatan tangan (homemade).

Animo pasar bisa dibilang lumayan mengingat usahanya juga berdiri belum lama.

Awalnya, Atha, demikian ia biasa disapa akrab, hanya menerima usaha jahitan pada Februari 2015.

Dimulai dari promosi mulut ke mulut antar sesama teman, tetangga, pasarnya pun meluas. Ia juga mulai merancang baju sendiri. Model dan bahan dipilih sesuai kesukaan Atha.

Pada saat dirinya mengikuti pameran Loop Pop Up Market yang digelar Telkomsel pada Oktober 2015, selain menyebar kartu nama terima pesanan jahit, ia pun memajang baju-baju desainnya sendiri.

 

Ternyata pengunjung yang datang ke stannya banyak yang suka dengan model busana Samantha Project.

“Sebenarnya kalau pameran untuk penjualan itu biasa saja. Rugi sih tidak tapi biasa. Hanya saja imbas dari pameran itu yang cukup signifikan,” kata Atha.

Saat pameran, Atha lebih fokus memperkenalkan karya, mencari jaringan, dan meluaskan pasar.

Terbukti dari ajang tersebut, Atha mulai kebanjiran pesanan. Ia pun sempat kewalahan karena untuk mengerjakan pesanan hanya sendirian.

Waktunya habis mengerjakan order jahitan sehingga ia tak sempat membuat rancangan karya sendiri.

Baru pada awal Agustus 2016, ia mendapat dua karyawan yang bisa membantunya menyelesaikan pesanan jahitan. Dirinya pun fokus mendesain dan membuat baju-baju unik dan etnik. (*)

 

Penulis: Trinilo Umardini

Editor: Trinilo Umardini

Sumber: Tribun Kaltim

Selengkapnya baca di :  http://kaltim.tribunnews.com/2016/09/10/pasarkan-kimi-lurik-dan-ulap-doyo-lewat-media-sosial?page=2

No tags

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.