PAKAI LURIK, SIAPA TAKUT ?

by

Sejak awal, modiste Samantha alias Samantha Project memang memilih banyak “bermain” dengan kain lurik. “Karena dibikin dengan tangan, lurik justru menampakkan kesan ekslusif. Elegan. Meski hanya garis-garis, tapi coraknya bermacam-macam. Warnanya pun masuk dalam selera,” begitu komentar mbak desainer Samantha.

Lurik merupakan salah satu kain tenun, yang nampaknya belakangan semakin populer. Dulunya, kain lurik identik alias merujuk ke pakaian yang dikenakan para abdi dalem dan prajurit keraton. Tapi, lurik juga dipakai dalam ritual-ritual (prosesi) yang amat lekat dengan budaya, seperti mitoni (tujuh bulan kehamilan), ruwatan, hingga siraman saat pernikahan. Motif yang dipakai pun beda-beda.

Sejarah lurik, seperti tercantum dalam buku “Lurik, Pesona, Ragam, dan Filosofi karangan Asti Musman (nama aslinya Estiningdyah), ternyata sudah tua. Keterangan tertua mengenai lurik ada di prasasti Polengan II (877 M), diterbitkan Rakai Kayuwangi yang memerintah Kerajaan Mataram Hindu. Dalam prasasti itu disebutkan “winaih kain halang pakan welah”. Kata “halang pakan”, di buku terbitan Penerbit Andi itu, berarti pakan malang, yaitu garis-garis melintang pada kain.

Di zaman Majapahit, lurik sudah dikenal sebagai karya tenun, dan sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat. Itu dapat dilihat dari cerita Wayang Beber yang menggambarkan ksatria melamar seorang puteri raja dengan alat tenun gendong sebagai maskawin.
Lurik yang dibuat dengan alat-yang sekarang disebut-Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)-dipakai hampir semua orang sebagai busana harian. Wanita menggunakannya sebagai kebaya, selendang dan jarik. Sedangkan untuk laki-kali, lurik dipakai untuk bahan baju, dinamakan beskap (Solo) dan surjan (Yogyakarta).

Istilah tenun lurik hanya ada di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Daerah lain tidak mengunakan istilah lurik, tapi kata lain, misalnya tenun ikat dan songket. Kata “lurik” berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti lajur, garis, atau belang. Lurik dapat juga berarti corak. Kata lurik berasal dari kata “rik” yang artinga garis atau parit, yang dimaknai sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya. Menyoal ke warna-warna kain lurik, ternyata juga sarat makna. Misalnya warna lurik yang mendekati abu-abu melambangkan kasih sayang dan restu raja terhadap prajurit.

Oya, tenun lurik mesti dibedakan dari tekstil lurik. Bedanya, antara lain, tenun lurik memakai pewarna kimia dan alami sedangkan tekstil lurik hanya pewarna kima. Kain lurik, bolak-balik sama karena proses pewarnaan dari benang, kainnya lebih renggang karena memakai ATBM. Sedangkan tekstil lurik, bolak-balik tidak sama (terang), kainnya lebih rapat dan teratur karena bikinnya memakai mesin. Jika pertama kali dicuci, lurik mengerut, tapi tekstil lurik tidak.

Semakin kesini, menariknya, lurik makin digemari. Banyak desainer dan (yang juga) penjahit seperti mbak Samantha menyukai kain-kain lurik untuk “disulap” menjadi busana siap pakai (ready to wear) yang unik, modis, dan gaul. Bisa jadi atasan, dress, rok, kimono, dan model lain. “Kesederhanaan” lurik, menurut mbak Samantha, adalah juga keunikan dan kekuatan kain lurik itu sendiri.

“Lurik sangat menyenangkan untuk dipadu-padankan dengan banyak kain tradisional, maupun katun. Siapa bilang lurik ketinggalan zaman,” begitu penutup dari mbak Samantha.

Salam Samantha
8 April 2017

No tags

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.