NGOBROL SANTAI FASHION A – Z BARENG TIGA DESAINER BALIKPAPAN

by

“Bagaimana desainer melihat perkembangan fashion Balikpapan? Apa tantangannya, terutama menyambut Kaltim sebagai Ibu Kota Negara? Apakah Balikpapan sudah siap? Mau tau bagaimana obrolan tentang itu?

Tiga desainer Balikpapan, Jangkung Eka Saputra (JESTHINK), Tyas Dwi Hardani (JAVABOR), dan Atha Nalurita (SAMANTHA PROJECT), membahas itu. Mereka jadi narasumber di acara Talkshow “Ngobras Fashion A-Z” Ngobrol Santai Bareng Desainer, Minggu (15/12/2019) sore, di Gedung Kreatif Klandasan–Gedung Parkir Klandasan, Jalan Sudirman, Balikpapan.

Putra mengatakan, industri kreatif  saat ini sedang menjadi sorotan. Hal ini tentu memberi angin segar bagi para pelaku industri kreatif. Semakin berkembangnya industri kreatif juga harus ditunjang dengan berkembangnya fasilitas yang mendukung, dan event-event yang bisa memfasilitasi. Salah satu dari industri kreatif tersebut adalah industri fashion.

Banyak pelaku fashion yang bermunculan di Indonesia. Dunia fashion Balikpapan pun juga berkembang. Dani mengutarakan dia sering melihat warga di pusat keramaian dan tempat publik mengenakan busana yang kekinian dan sangat modis. “Tidak kalah dengan kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Surabaya bahkan Kuala Lumpur dan Singapura,” kata Dani.

Ini erat kaitannya dengan perkembangan informasi melalui medsos dan internet. Masyarakat menjadi lebih terbuka dan mudah mengenal dunia mode, karena busana yang sedang trend di belahan dunia yang lain dapat dengan mudah diikuti masyarakat. “Apalagi dengan kemudahan yang diberikan oleh jaringan mall dan pusat perbelanjaan yang membawa produk busana terkini ke tengah masyarakat,” kata Dani.

Industri fashion di Balikpapan, menurut Putra, satu tahun terakhir gaungnya mulai terdengar. Acara-acara fashion show mulai bermunculan. “Tapi apakah ini sudah bisa dikatakan berhasil? Belum. Masih banyak pekerjaan rumah. Mulai dari desainer-desainer lokal yang belum terekspos hingga kurangnya kesadaran masyarakat untuk mencintai brand-brand lokal,” ujar Putra.

Atha menambahkan, desainer juga mesti terus mendekatkan diri ke masyarakat, agar dikenal, dan menegaskan eksistensi. Menggelar fashion show, misalnya, penting. Sebab masyarakat juga akan mendapat hiburan, sekaligus edukasi. Namun juga tidak bisa sering karena seorang desainer perlu waktu yang tidak sebentar untuk menyiapkan segala sesuatunya.

Belum lagi soal dana. “Seperti topik obrolan fashion, dari A-Z. Banyak yang dibahas. Begitu juga ketika desainer mesti menyiapkan semua detil, dan mesti dibantu tim untuk bisa menggelar fashion show. Tidak ideal jika persiapan fashion hanya seminggu, atau sebulan,” kata Atha.

Apa saja sih, keresahan yang dirasakan desainer?

Menurut Putra, banyak brand lokal bermunculan di Balikpapan, mulai dari etnik hingga modern. “Tapi tidak sedikit pula yang akhirnya tutup karena persaingan dengan brand besar. Kondisi ini menjadi masukan bersama untuk bisa membuat suatu wadah untuk berkumpul dan sharing berbagi pengalaman,” katanya.

Dani resah jika masyarakat malah tidak mengenal atau bahkan tidak menghargai karya/keindahan lokal Balikpapan sendiri. “Seiring membanjirnya produk dari luar, sedangkan pengenalan dan pemahaman tentang produk lokal sendiri kurang digalakkan,” kata Dani.

Keresahan kedua adalah regenerasi.  Kurangnya minat generasi muda untuk terjun didunia fashion menjadi keresahan tersendiri untuk keberlangsungan industri fashion itu sendiri. Untuk itu bisa dibuatkan wadah atau perlombaan untuk bisa menyaring bibit-bibit baru dalam dunia fashion desainer.

Bahkan, menurut Atha, mencari tenaga penjahit pun susah. “Padahal, pekerjaan yang terkait usaha fashion seperti menjahit pun, sebenarnya punya potensi. Desainer juga perlu bantuan tenaga jahit. Bukan sekedar pekerjaan, karena juga dituntut skil dan keterampilan lain. Sayangnya, semakin ke sini, semakin anak muda kurang tertarik,” kata Atha.

Terkait ibu kota, bagaimana desainer bersiap? Dunia fashion Balikpapan kurang apa?

Dani menyebut, terkait Ibu Kota akan berdampak pada peningkatan arus penduduk dan pergeseran gaya hidup yang sangat dinamis, begitu juga dalam tren berbusananya. “Kita harus siap lebih awal menghadapi perubahan ini, jangan sampai kita malah kehilangan kearifan lokal dan kekayaan budayanya. Kita harus bisa beradaptasi dengan perubahan dan trend yang berkembang di masyarakat dengan tetap mempertahankan keindahan budaya lokal seperti batik maupun ragam kerajinan khas kita,” kata Dani.

Putra mengatakan, tantangan menuju Kaltim sebagai ibu kota tidak mudah. Ini memaksa para pelaku fashion bersiap menghadapi situasi yang baru. Bakat tentu tidak cukup. Banyak ilmu dan juga kemampuan yang harus ditingkatkan. “Dengan meng-upgrade ilmu tentang fashion, dan segala yang terkait. Tantangan lain adalah bagaimana desainer bergerak di era digital. Ranah digital bisa untuk membangun image brand fashion,” kata Putra.

Bagaimana membangun dan mengenalkan brand, serta apa saja kendalanya?

“Agar suatu brand dapat diterima dan dicintai masyarakat, saya selalu menyesuaikan dengan kebutuhan pasar. Dalam hal busana rancangan saya menekankan pada generasi muda millennial yang bersifat simple, nyaman dan praktikal. Saya mengenalkan motif-motif batik dalam rancangan saya yang lebih dinamis dan sporty supaya batik tidak tidak lagi memberikan kesan tua atau formil, sehingga generasi millennial juga nyaman mengenakannya,” kata Dani.

Menurut Putra, membangun serta mengenalkan brand  tidak mudah. Dibutuhkan banyak waktu, tenaga, serta persiapan yang baik juga ketekunan dan semangat yang pantang menyerah. Desainer mesti terus belajar, di mana saja, kapan saja.  “Ketika kita ingin memulai suatu brand, hal yang harus dilakukan adalah menentukan dulu desain style, tentukan segmen/target pasar, tetapkan misi dari brand, membuat logo dan tagline brand, dan pahami keunikan brand,” kata Putra.

Jika produk fashion itu unik, menurut Atha, masyarakat akan mendapat kesan. Namun, unik pun, menurut Atha juga mesti ditunjang dengan kenyamanan memakai. “Masyarakat ingin busana yang unik, modis, dan fresh. Namun juga mesti yang nyaman dan bisa dipakai sehari-hari,” kata Atha.

Memadu-padankan busana, ditambahkan Dani, juga hal penting. “Salah satu yang menjadi perhatian saya adalah jika seseorang mengenakan busana secara berlebihan (overdressed), tidak pada tempatnya, atau dikenakan tidak sesuai usianya (terutama pada anak-anak). Karena hal ini bisa jadi akan  bertentangan dari tujuan awal dari busana itu sendiri,” kata Dani.

No tags

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.