MODISTE KOK SEMPAT-SEMPATNYA IKUT PAMERAN ?

by

Sepertinya memang rada janggal kala mendengar atau melihat usaha jahit skala rumahan mengikuti pameran. Iya, pameran. Tapi, Modiste Samantha Balikpapan alias Samantha Project sudah lima kali ikut pameran dalam kurun waktu 2,5 tahun terakhir ini, lho.

Dan horenya lagi, Mbak Samantha tidak hanya menggelar lapak dan jualan busana ready to wear, namun juga mengikuti trunk show, fashion show skala kecil, fasilitas asyik yang disediakan oleh panitia. Yeay, seperti niat awal, Samantha memang modiste yang kekinian.

Tentu saja, banyak cerita terkumpul mengiringi sepak terjang Mbak Samantha selama berpameran. Jungkir-balik memboyong peralatan tempurnya yang tidak umum, ke lokasi pameran. Juga memeras keringet “berliter-liter” sepanjang pameran. Cerita asyik, seru, sedih, dan juga menegangkan, ada semua.

Event pertama Mbak Samantha adalah “Balikpapan Loop Pop Up Market” pada 1-4 Oktober 2015 lalu, di halaman parkir mal Balikpapan Baru. Nyaris tak ada persiapan, namanya juga mendadak ikut. Juga tak ada barang yang terpikirkan untuk diangkut, kecuali mesin jahit, satu manekin, dan beberapa potong baju-yang mendadak dibikin.

Tapi, ya enggak lucu juga kalau kami cuma membawa itu karena stan akan terlihat kosong dan sepi. Waktu itu Mbak Samantha juga belum punya koleksi kain-kain. Maklum, sehari-hari Mbak Samantha kan menjahit melulu, dan seumur-umur memang tidak pernah berpameran. Untung pula Mbak Samantha punya beberapa stok baju ready to wear. Jarang lho, bahkan mungkin amat jarang bingits, ada penjahit yang-sempat-punya (stok) baju yang bukan merupakan orderan pelanggan.

Alhasil jadilah Mbak Samantha kulakan setumpuk kain secara mendadak. Pesen sana, pesen sini. Muter sana muter sini. Belum juga punya rak kayu, dan papan nama. Butuh juga “ragangan” rotan dan kotak untuk naruh baju-baju yang digantung. Kartu nama juga belum ada meski selembar. Akhirnya, untunglah, akhirnya bisa dapat juga semua yang diinginkan.

Tepat sebelum detik injury time, seluruh perangkat dan peralatan sudah terhampar. Siap diangkut. Untungnya lagi, tante-nya Mbak Samantha juga memberi support dengan menitipkan sejumlah tas kulit.

Mesin jahit listrik portable dan sepeda tua milik Mbak Samantha yang buatan Jepang tahun 60-an, diputuskan untuk diboyong ke lokasi. Papan kayu bertuliskan “Samantha Project – pantes lan prayogi” pun diletakkan di boncengan sepeda. Kursi di kamar tamu, tak ketinggalan diangkut.

By the way, “pantes lan prayogi” ini adalah bahasa Jawa. Berarti pantas dan sudah semestinya/sepatutnya. Tagline pertama kami ini, lalu disusul dengan motto lainnya : pilih sendiri kainmu, atau pilih dari koleksi kami, lalu jahitkan ke Samantha.

Beranjak ke pameran kedua, judulnya adalah “Welcoming Days Telkomsel 4G-LTE pada 28-29 November 2015. Kabar bahwa kami diminta berpartisipasi dalam event di parkiran Mal Balikpapan Super Block (BSB), segera disambar Mbak Samantha dengan gembira. Kami menjadi bagian dari 36 peserta.

Stan yang lebih luas daripada pameran pertama, membuat Mbak Samantha mesti membawa skuter tua andalannya, untuk memenuhi ruangan. Si “gambot” Sprint 77 pun jadi menemani si sepeda tua. Jadi duo jadul di sana. Imbasnya adalah, Mbak Samantha beberapa kali ditanya, apakah jualan sepeda dan skuter.

Dalam dua pameran awal, sepertinya Mbak Samantha lebih dikenal sebagai penjual kain. Baru ketika ngobrol kesana-kemari, hehe sana hehe sini, dan ngasih kartu nama, pengunjung baru mulai tahu bahwa Mbak Samantha adalah penjahit. Tepatnya, penjahit yang bisa mendesain dan punya koleksi kain dan baju yang kece badai.

Di pameran kedua ini, ada hal unik dan baru pertama kali diterapkan. Pembayaran dilakukan memakai T-cash, uang elektronik layanan Telkomsel. Enggak bisa bayar tunai, begitu garis besarnya. Ponsel dilekati semacam chip bundar, dan kita tinggal ngedeketin hape ke alat yang dipinjamkan panitia. Dan.. ting.. selesai.

Namun, ya tetap saja, transaksi masih bernuansa tunai. Belum terbiasa berkenalan sama teknologi layanan T-cash, sebagian pengunjung memilih tetap bayar secara tunai, cash. Ada memang, pengunjung yang akhirnya mau mencoba T-cash, tetapi banyak yang enggak mau karena merasa malah repot.

Event berikut adalah “Telkomsel Loop Pop Up Market” yang digelar di halaman parkir Mal Balikpapan Baru, pada 31 Maret-3 April 2016. Samantha saat itu membawa “latar belakang” stan yang bener-bener tidak biasa, yakni anyaman bambu berukuran 2 meter x 2 meter. Ribetnya.

Mengangkut dengan pikap, jantung dag-dig-dug sepanjang perjalanan karena anyaman bambu ini kan bisa berkibar. Mana ukurannya juga agak segede gaban. Ditambah beratnya yang lumayan, ada tuh kalau 20 kg, resiko semakin membayang. Boetoeh perdjoeangan, mulai dari mengikat ke pikap sampai meletakkan di stan. Ganjal sana, ganjal sini. Talikan ke sana, simpulkan ke sini. Habis pameran, Mbak Samantha tepar dua hari.

Selanjutnya, yakni pameran keempat, bertajuk “Pop Up Market”. Lokasinya sama, yaitu parkiran Mal Balikpapan Baru, pada tanggal 28 September-2 Oktober 2016. Semakin banyak kain yang dibawa, kali ini, sehingga stan kami jadi lumayan berisi. Mayoritas kain adalah lurik, dan batik, meski ada juga tenun Samarinda.

Pameran kelima yang durasinya terlama (5 hari), diadakan di roof top Bandara Sepinggan, Balikpapan, pada 3-7 Mei 2017, bertajuk “Pop Avenue”. Ini pameran dimana Mbak Samantha tidak terlalu banyak bawa dagangan. Untuk pertama kali, sepeda tua dan mesin jahit listrik tidak ikutan mejeng di stan.

Namun di pameran kelima ini, Mbak Samantha membawa barang baru, yakni 100 lebih patch dan pin yang bertemakan macam-macam. Ada pin seri “Zombie vs Plant”, seri jadul, sampai kekinian. Untuk yang patch juga kira-kira demikian-lah. Untuk kali pertama juga dipajang anek tas dan bantal mungil motif Tintin.

Sebagian pengunjung cukup berminat menyematkan patch di topi, tas, jaket, bahkan sepatu mereka. Lansung jahit, di lokasi, euy. Berbekal jarum dan benang, Mbak Samantha membereskan. Dibantu oleh kawan-kawan “genk Barakati”, yang berbagi stan dengan Samantha. Barakati ini produsen rok yang asyik di Balikpapan. lho.

Saat pameran kelima ini, Mbak Samantha dan genk Barakati berselfie ria bersama Pak Rizal Effendi, Wali Kota Balikpapan yang berkeliling memantau pameran di malam hari. Ini dia fotonya. Makasih ya pak, sudah ditengokin dan berkenan mejeng sejenak di stan kami.

Dalam empat pemeran pertama, Samantha mengisi puncak acara yakni trunk show, fashion show skala kecil. Para model dari Srinthil Agency Balikpapan, didandani khusus untuk memeragakan busana bikinan Samantha.

Trunk show, sayangnya urung diadakan di pameran terakhir, karena terhadang hujan deras. Alam memang tidak mungkin dilawan. Tidak mengapa dan Mbak Samantha tetap hore. Busana-busana masih ada lho, di workshop Samantha di Cluster Berau, Wika, Balikpapan. Beberapa sudah sold, malah. Makasih, makasih.

Penasaran kapan Samantha ngikut pameran dan menggelar trunk show lagi? Sabar. Jangan lewatkan informasinya, ya. Stay tune di web ini, selalu, dan segera saja follow dua akun instagram kami di: @samanthaproject dan @samanthaproject_storehouse.

Oh iya, mumpung inget, coba kita sebentar tanya ke Mbak Samantha. Apa yang ada di benaknya ketika memutuskan ikut pameran? Enggak lazim lho penjahit berpameran. Tentang itu, Mbak Samantha bilang, pameran adalah ajang untuk eksistensi diri sebagai kreator busana. Dan, makin klop ketika ada trunk show di setiap pameran.

Mbak Samantha tak ingin hanya sekadar dikenal sebagai penjahit, tapi juga kreator. Eh, tunggu dulu, apa tadi bilangnya barusan? Kreator? Kreator busana? Kreator atau desainer, sebenarnya si Mbak ini? “Emmm, kreator saja, lah,” jawab Mbak Samantha, tersenyum simpul, sembari menyeruput teh dan ndengerin lagu-lagu Metallica.

Salam metal, eh salam Samantha

No tags

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.