ASYIKNYA KELAS-KELAS SHIBORI SAMANTHA

by

Sejak awal 2017, Mbak Samantha kepincut shibori.  Bahkan akhirnya memutuskan iseng bikin selembar demi selembar kain shibori, berdasarkan “arahan” eyang Gugel. Sampai akhirnya merasa harus melengkapinya dengan ikut kursus privat jauh-jauh ke Yogyakarta.

Hingga akhirnya balik menularkan ilmu per-shibori-an sejak tahun lalu. Berkolaborasi dengan para penggerak seni kreatif di Balikpapan, antara lain Rumah Seni Nirmana dan Hat & Hoodie, dengan membuka kelas shibori.  Memberi pelatihan shibori di lingkungan rumah, juga pernah.

Perjalanan akhirnya juga mengantarkan Mbak Samantha bertemu dengan “Biru Tamaela”, band anak muda yang tengah naik daun di Balikpapan. Jadilah kostum shibori yang dijahit pula oleh Mbak Samantha menjadi salah satu kostum panggung mereka.

kelas shibori di rumah seni Nirmana by Samantha

Sepertinya itu yang juga mengusik pikiran Asterix. Terlebih lagi saat penduduk Desa Galia ini menengok website Samantha dan instagramnya. “Mbak Samantha ini, sebenarnya apa sih profesi utamanya. Tukang jahit baju, perancang baju, tukang bikin shibori, atau pegiat mode,” begitu isi benak Asterix.

Berhubung Desa Galia lama tidak mendapat serangan pasukan Romawi, maka Asterix pun jadi bête. Biasanya terjadi pertempuran seru, tapi akhir-akhir ini nihil serangan. Asterix tidak tahu jika nun jauh di sana, pasukan Romawi lega karena tidak disuruh menggempur Desa Galia—yang itu berarti pasti kekalahan yang memalukan.

Maka, Asterix jadi punya banyak waktu untuk bermedsos ria. Hanya saja, semakin membolak-balik sekian banyak artikel di website www.modistesamantha.com dan instagram @samanthaproject, bertambah bingunglah dia. Mau bertanya ke Obelix sepertinya salah orang. Di sudut desa, Obelix yang bawa menhir, lagi asyik main kejar-kejaran sama Idefix.

“Ini tukang jahit, tapi kok juga bikin kain shibori, sampai bikin bantal meski yang terakhir ini akhirnya jarang tersentuh. Tukang jahit, tapi kok sering ikut pameran. Mengeluarkan desain-desain baju, pula.  Beberapa kali ikut trunk show dan fashion show, bahkan juga jadi penata busana. Eh, masih juga punya waktu untuk nulas-nulis artikel seputar aktivitas jahit di website. Sesekali juga terlihat sedang main gitar,” gumam Asterix.

Ingin menuntaskan rasa penasaran, Asterix lalu berinisiatif menanyakan langsung. Apa yang ada di benak Mbak Samantha yang melakoni aneka kerjaan itu. “Ah, kamu, Terix (panggilan untuk Asterix). Jawaban atas pertanyaanmu itu, simpel. Saya bikin shibori ya karena ingin bikin motif sesuai keinginan sendiri,” kata Mbak Samantha.

kelas shibori Samantha di WoodClub

Ketika rasa penasaran tidak pernah surut, menurut Mbak Samantha, maka akan selalu muncul sekian ide, gagasan, dan kenekatan untuk mencoba hal-hal baru. Dan, ketika ide-ide bermunculan, maka semestinya segera direalisasikan sepanjang itu mungkin dan bisa. 

Ide-ide, sering malah nongol di malam hari. Tak terhitung berapa malam Mbak Samantha mengutak-atik kain shibori, mencari motif baru, hingga larut malam. Tepatnya hingga menjelang subuh, sih. Trus sampai membangunkan ayam-ayam, mengingatkan agar jangan lupa berkokok. Hehe.

kelas shibori di Astara Hotel by Samantha

Begitulah. Mbak Samantha dengan senang hati membagi cerita seputar shibori. Akhir Maret 2019 lalu, Mbak Samantha mengisi “Shibori Class” di Hotel Astara Balikpapan, dan seminggu kemudian memberi pelatihan serupa di lingkungan rumah dengan peserta para tetangga.

Imey, humas Hotel Astara, awalnya yang mengajak Mbak Samantha untuk membuka kelas shibori. Momennya adalah Hari Bumi, Kesempatan yang lantas disambut. “Konsepnya adalah kolaborasi yang berhubungan dengan lingkungan. Jadi enggak pakai bahan kimia, melainkan bahan alami,” begitu kata Mbak Imey.

Sebelumnya,  Juli 2018 lalu, mengisi kelas shibori di acara “Family Festival” di Wood Club Balikpapan yang dihelat Hat & Hoodie English Course and Life Club. Sebelumnya lagi, pertengahan Mei 2018, mengisi kelas shibori “do it your self” di Rumah Seni Nirmana Balikpapan.

“Shibori itu, unik. Kita bisa mencoba membuat banyak motif, meskipun cara dan prosedurnya sama, namun pasti selalu berbeda hasilnya.  Ada unsur kejutan yang mengasyikkan di sini. Bisa dibilang, ini juga tentang bermain-main dengan warna dan imajinasi,” ujar Mbak Samantha.

kelas shibori di Wood Club by Samantha

Ngomong-omong soal warna, shibori tergantung pewarnaan. Dalam hal ini, bisa digunakan pewarna alami dan buatan. Saat memberi kelas shibori di Astara Hotel misalnya, Mbak Samantha dan para peserta menggunakan pewarna alami. Antara lain kunyit, untuk mendapat warna kuning.

“Pewarna alami, lebih baik. Namun pewarna kimia, sekarang sudah ada yang cukup ramah lingkungan.  Dua-duanya punya kelebihan dan kelemahan. Pewarna alami, menghasilkan warna lebih kalem, dan lebih cepat pudar. Sedangkan pewarna kimia, warna lebih cerah, tebal, dan lebih lama pudarnya. Itu soal selera saja,” kata Mbak Samantha.

Asterik mengangguk-angguk mendengar penjelasan Mbak Samantha. Tiba-tiba terbesit ide untuk menggelar kelas pembuatan shibori di Desa Galia. Sembari menunggu serbuan pasukan Romawi, mungkin bisa jadi berlembar-lembar shibori.

Nanti, setiap satu pasukan Romawi menyerang, diberi kain shibori sehelai. “Tapi, kapan mereka menyerang Galia?” mendadak Obelix datang dan bertanya.  Ah memang, menanti serangan pasukan Romawi adalah sesuatu yang membosankan bagi mereka. 

kelas shibori di rumah seni Nirmana by Samantha


No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.