KISAH TIKUS-TIKUS “PENJAHIT”

by

Dahulu kala, di Gloucester, Britania, hiduplah seorang penjahit laki-laki. Sudah tua, badannya kurus, berkacamata, dan jari-jarinya bengkok. Kain bajunya sudah tipis lantaran sering dicuci tanpa diganti. Sehari-hari kerjaannya menjahit, menggunting, dan memilah-milah kain.

Penjahit yang miskin, kira-kira gitu deh. Dia bekerja keras mengupayakan hasil jahitannya agar bagus dan rapi.  Zaman itu zaman ketika kain dan bahan-bahan untuk menjahit harganya masih mahal. Zaman ketika para ksatria masih berperang dengan pedang. Harga baju bagus, jelas mihil alias mahal. Cuma segelintir yang menjahitkan baju. Tentu saja tak cukup memberi dampak finansial bagi si penjahit.

Pemandangan di ruang kerjanya sesederhana orangnya. Sisa-sisa potongan kain berukuran kecil, bertebaran di sana-sini. “Terlalu kecil, sehingga tak cukup untuk dibuat apapun, kecuali rompi untuk para tikus,” begitu kata si penjahit, pada dirinya sendiri.

Satu waktu, menjelang Natal, si penjahit membuat jas berwarna merah, berbahan sutera, bersulam bunga, dengan rompi berwarna krem dan dihias pakai kain tipis. Baju itu untuk wali kota Gloucester. Pesanan orang penting, nih.

Saat itu sedang musim dingin. Salju menumpuk tebal di luar. Penjahit ini bekerja keras menyelesaikan order jas tadi. Di malam kesekian, baju tinggal dipasangi kancing. Sayangnya benang pun habis. Pekerjaan dilanjutkan besok. Si penjahit bergegas pulang ke rumah. Lelah mendera. Mengantuk. Tapi tunggu, kok terdengar suara pelan “tap-tap-tip-tap” berkali-kali.

Apa itu ? Suara itu terdengar dari dalam sejumlah cangkir dan mangkok yang terbalik. Si penjahit penasaran. Dibaliknya satu cangkir, eh, di dalamnya ada tikus kecil. Begitu seterusnya. Tiap cangkir dan mangkok dibalik, ada saja tikus kecil di dalamnya. Sebelum lari ngacir, para tikus itu seperti memandang si penjahit. Badan mereka dibungkukkan.

Apa para tikus itu mau berterima kasih? Entahlah. Si penjahit tidak memikirkan itu. Dia pun duduk lagi, karena capek. Yang dipikirkan hanya sisa pekerjaannya. Tinggal bagian kancing, sih. Tapi belum ada benang. “Dua puluh satu lubang kancing dari benang sutera merah-ceri. Harus selesai Sabtu siang,” keluhnya.

Dengan kata lain, waktu tinggal tiga hari. Bikin 21 lubang kancing dalam waktu segitu, saat itu, amat berat. Benangnya habis, pula, dan itu masalah besar. Si penjahit merasa tamat riwayatnya. Terlampau capek mikir, dan kelelahan, dia malah jatuh sakit keesokan harinya.

Oh iya, di rumah, si penjahit tinggal bareng seekor kucing. Si meong itulah yang disuruh beli benang. Kucingnya memang beli benang tapi ternyata enggak mau menyerahkan. Walah. Ternyata itu, karena si penjahit melepaskan tikus-tikus yang notabene adalah santapannya.

Kucingnya ini yang ternyata menangkap para tikus dan menaruhnya di balik mangkok-mangkok dan cangkir. Untuk disantap, tentu saja. Si kucing jengkel dan marah ke penjahit, meminta tangkapannya dikembalikan. Tapi, bukannya juga mustahil untuk menangkap ulang tikus-tikus itu satu per satu. Lagian, mau mencari mereka ke mana, coba?

Pusing, deh, jadinya. Celakanya lagi, si penjahit masih demam, sampai dua hari kemudian. Enggak bisa beli benang, dan juga enggak mungkin meneruskan acara menjahitnya. Badannya masih lemes. Rencana bikin baju jas untuk pak walikota jelas sudah berantakan dan pasti gagal. Tak ada yang bisa dilakukan. Pasrah apapun yang akan nanti terjadi. Tapi yang tak diketahuinya, ternyata para tikus, sebelum lari kabur, mendengar kata-katanya tentang kancing-kancing jas yang belum dikerjakan. Oh mereka ingin membantu.

Tikus-tikus kecil itu berlarian menuju ke tempat usaha si penjahit itu. Tentu tak perlu kunci pintu karena bisa menyelinap dari celah kecil. Mereka lantas mengerjakan kancing-kancing jas tersebut. Mereka menjahitnya beramai-ramai ! Sebelumnya, mereka pun sudah membereskan urusan benang yang habis.

Si kucing yang kesana-kemari mencari para tikus, sampai juga ke tempat kerja si penjahit. Dia melihat aktivitas mereka menjahit. Dan, ah, si meong lantas merasa malu dan tersadar. Bagaimanapun juga, ada salahnya karena menyembunyikan benang. Terlambat, sudah, nampaknya untuk memutar waktu.

Sekarang sudah Sabtu, hari pengambilan baju jasnya pak walikota. Si penjahit bangun dengan kondisi badan lumayan. Demamnya sudah reda. Tapi dia merasa hopeless. Dia merasa sudah gagal bikin baju jas. Si kucing sudah meletakkan benang di dekatnya. Masalah benang berarti sudah rampung. Sayang, solusi atas masalah jelas tidak semudah itu, ferguso….

Meski demikian, si penjahit tetap melangkahkan kaki ke tokonya. Apapun yang akan terjadi, biarlah terjadi. Tapi sebentar, ada yang aneh.. Begitu masuk ruang kerjanya—yang ditinggal tiga hari—kondisinya kok bersih. Lantai, meja, dan lainnya, bersih semua. Matanya segera mencari jas yang nanti siang akan diambil pak walikota. Yap, masih ada. Itu dia… But, guess what…

Jas itu sudah rapi !!! Bahkan kancing-kancing sudah dibikin. Jahitannya pun rapi. Kagetlah si penjahit. Kemudian ia melihat ada satu lubang kancing  yang belum jadi. Dan eh, apa itu ? Ada secarik kertas kecil bertuliskan “benangnya habis”. Masih diliputi keheranan, si penjahit bergegas menjahit, membuat satu bagian kancing terakhir. Benang dari si meong tadi, untunglah dibawa.

Dan jadilah jas itu. Bagus pula hasilnya. Pak walikota senang. Peran para tikus, tentu saja kemudian diketahui penjahit tersebut. Perbuatan baik berbuah kebaikan. Sekarang orang-orang mulai membicarakan kualitas jahitannya. Pedagang-pedagang kaya kini jadi pelanggannya. Kehidupan si penjahit berangsur membaik. Dia pun ke diler mobil membeli Ferrari…..eh bukan… hehe. Dia masih setia melakoni pekerjaannya.

Tak pernah dalam sejarah di Gloucester, ada penjahit yang bisa bikin baju sebagus itu. Dengan lipatan pergelangan tangan seindah itu. Lubang kancingnya terbilang istimewa, amat rapi. Setik jahitan lubang kancing itu kecil sekali, seakan hanya bisa dibikin oleh tikus kecil !! Ah….

Dan, taraaaaa. Selesaiiiiii ceritanyaaa. Bagus kaan, meski ini adalah kisah fiksi. Jadi, cerita penjahit dan para tikus tadi, disarikan dari buku “The Tailor of Gloucester” atau Kisah Penjahit Gloucester. Buku cerita bergambar terbitan Gramedia Pustaka Utama yang hanya setebal 29 halaman ini karangan Beatrix Potter.

Beatrix lahir di London tahun 1866. Ia banyak menulis buku cerita untuk anak-anak. Ia sendiri yang menggambar ilustrasi di buku-bukunya. Sepertinya dia menyukai hewan-hewan. Buktinya, buku The Tailor of Gloucester ini penuh gambar hewan. Dari tikus, kucing, kodok, angsa, sampai burung hantu.

Oke, lalu apa hubungannya sama Mbak Samantha, owner Samantha Project Balikpapan ? Ada, lah. Pertama, mereka sama-sama penjahit. Kedua, Mbak Samantha juga mengerjakan order jahitan dengan segenap hati. Mbak Samantha suka banget kisah “ajaib” para tikus itu. Bayangkan, ada tikus-tikus yang bisa bantuin menjahit. Gile, Ndrok…

Andai Mbak Samantha punya tikus-tikus seperti penjahit Gloucester. Mimpi kaliii, yeeee. Memang ada “tikus” yang bantuin Mbak Samantha tiap hari di workshop jahitnya. Tapi cuma “seekor” dan itu adalah….Pak Samantha, alias sang suami. Hahaha.

Tapi baiklah. Oke, oke. Mari kita ambil hikmah cerita tersebut. Sepertinya Pak Samantha akan giat belajar menjahit agar bisa menyamai skill jahit para tikus di cerita tadi. Salam Samantha.

No tags

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.