“KELELAHAN”, MESIN JAHIT PUN BUTUH DISERVIS

by

Yang namanya mesin, kadang memang ngadat. Entah mesin motor, mesin genset, mesin cuci, bahkan juga mesin jahit. Peralatan tempur Mbak Samantha akhirnya juga mengalami, sehingga mesti dievakuasi ke “rumah sakit”.

Tepatnya ke tempat servis mesin jahit, milik Pak Udin, yang rumahnya di belakang SPBU Karanganyar, Balikpapan. Tiga mesin yang setelah 1-2 minggu ngajak “berkelahi” ini, setelah didiagnosa, harus opname sehari.

Satu mesin obras dan dua mesin jahit, masuk sekaligus. Mereka tampaknya kelelahan kerja keras di workshop Samantha, nyaris nonstop sejak awal 2015. Kalender mereka, bisa dikatakan, nyaris hitam semua.

“Untuk menjahit dan obras, terasa enggak enak,” begitu laporan Mbak Samantha. Pak Udin yang sudah 30-an tahun berurusan sama mesin jahit ini, lalu melihat sejenak tiga mesin yang diangkut Mbak Samantha.

“Ditinggal dulu ya. Nanti kalau sudah jadi, saya kabarin,” begitu katanya. Orait. Selang sehari, bapaknya mengirim pesan pendek (SMS), memberitahu jika sudah selesai.

Garis besar masalahnya adalah tempat bobbin-nya bermasalah, dan ada bagian-bagian yang mesti dilumasi. Ah, ternyata gitu. Mbak Samantha memang tidak bisa memperbaiki mesin jahit. Maksimal dilakukan ya menuang minyak (singer) saja dan “mainkan” obeng sana-obeng sini.

Ketika menyerah, barulah mesin diangkut ke Pak Udin, seperti minggu kemarin. Ini kali kedua mesin jahit diangkut ke sana, setelah sebelumnya ngadat gegara memasang sepatu untuk ngesum, dan ternyata … gagal…

Okay, tiga mesin sudah pulih seperti semula. Tiga mesin yang dua di antaranya kini jadi cadangan, setelah tiga bulan lalu Mbak Samantha memboyong mesin jahit industri.

“Kalau mesin jahit listrik yang portable, terutama yang keluaran tahun-tahun terakhir, lebih sering rusak ketimbang mesin konvensional. Kalau mesin kuno sih, simpel. Tinggal teteskan minyak,” kata Pak Udin.

Di kios Pak Udin yang menyatu dengan konter pulsa ini, terhampar setidaknya 15 mesin jahit dan obras. Aneka bentuk, aneka merek. Berbarengan dengan Mbak Samantha, ada juga yang membawa mesin obrasnya ke Pak Udin.

Mesin jahit tertua yang pernah diservis apa ya? Pak Udin menjawab, merek tertentu, yang diperkirakan lansiran sebelum kemerdekaan. Dia pun baru pertama kalinya melihat mesin jahit tersebut.

“Orangnya yang bawa mesin jahit kuno ini, bukan penjahit. Hanya ingin mesin milik keluarganya itu diservis. Bukan untuk dipakai, melainkan untuk dipajang saja. Bentuknya kan klasik, antik,” kata Pak Udin.

Mmm baiklah. Sedikit cerita yang menarik dari teknisi mesin jahit di Kota Minyak ini, sore itu. Terima kasih sudah bikin mesin-mesin jahit Mbak Samantha ini bisa “galak” kembali. Siap menyalak, eh, menjahit…

No tags

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.