KELAS SHIBORI ALA SAMANTHA PROJECT

by

Seperti penduduk Desa Galia yang terus berstrategi menghadapi gempuran pasukan Romawi yang tiada henti, Mbak Samantha pun terus berekspresi dengan kain shibori yang berwarna-warni… Enggak nyambung memang dua baris kalimat di atas, namanya juga usaha kecil-kecilan bikin pantun, hehehe.

Jadi, ini tentang keinginan Mbak Samantha mengenalkan shibori sepanjang tahun 2018. Akhirnya, Mei lalu, Mbak Samantha dengan Samantha Project-nya menggelar kelas pelatihan shibori, berkolaborasi bersama Rumah Seni Nirmana. Oya, Rumah Seni Nirmana ini salah satu “rumah” belajar seni, yang juga menggali lini kreatif, dan ruang diskusi. Rumah Seni Nirmana beralamat di Jalan Indrakila. “Do Art Your Self”, itu dia motto-nya.

Kelas shibori yang pertama, sukses. Tidak menunggu lama, kelas kedua pun dijalankan. Awal Juli 2018 lalu, Rumah Seni Nirmana kembali berkolaborasi dengan Samantha Project. Kali ini, event-nya adalah “Family Festival” di Woodclub, Balikpapan, yang dihelat oleh Hat & Hoodie English Course and Life Club–Ini tempat yang asyik bagi kalian yang mau belajar Bahasa Inggris, lho.

Kembali ke kelas shibori.. Materi pelatihannya dalam dua kelas tadi, adalah mencoba teknik Itajime (itajime shibori), yang secara garis besar adalah melipat (ita) dan menekan/menjepit (jime) kain, untuk menghasilkan pola tertentu. Nah, di sini digunakan kain katun polos, serta alat bantu stik kayu dan karet.

Sarung tangan (glove) karet tak ketinggalan. Dan, seperangkat baskom kecil untuk wadah campuran air dan pewarna. Jauh hari sebelumnya, Mbak Samantha sudah “berburu” sekian macam pewarna agar shibori bikinan para peserta nantinya berwarna-warni.

Semua peserta antusias, karena ini baru pertama kalinya menjajal bikin shibori (teknik itajime).  Penasaran mau jadi bentukan yang gimana nantinya. Tak seberapa lama, rasa penasaran pun tuntas dan mereka sendiri cukup kaget dengan hasilnya. “Ternyata aku bisa bikin,” begitu mungkin suara dalam hati.

 “Meski misalnya dua kain dibikin jadi shibori dengan cara yang sama, tetap bisa hasilnya berbeda. Rada-rasa misteri, kan. Itulah uniknya. Pola gambar yang tercetak, abstrak, namun tetap indah,” ujar Mbak Samantha, tertawa riang.

Mbak Sophie selaku pendiri Rumah Seni Nirmana, juga sama antusiasnya. “Sudah saatnya shibori dikenal masyarakat agar semakin diterima. Respons peserta, bagus,” ujar Sophie yang adalah kawan lama Mbak Samantha ini.

Oya, Mbak Samantha juga bikin sejumlah shibori di workshop Samantha Project (Modiste Samantha) di Cluster Berau, Wika, Balikpapan. Ini juga lokasi Galeri Kita. Penasaran? Mampir aja, buruan.

Asyik, kan, berkreasi dengan shibori. Seandainya saja Asterix dan Obelix pakai shibori, tentu pasukan Romawi semakin bingung. “Lho ini Desa Galia, sebetulnya masuk wilayah negara mana, sih?” barangkali begitu isi percakapan antarpasukan Romawi, sembari membolak-balik peta.

“Tapi, bagus juga lho baju yang mereka pakai. Shibori, kan? Gambarnya abstrak, beda, unik. Misterius-misterius gimana gitu. Gimana ya caranya bikin,” celetuk seorang prajurit Romawi, yang sebenarnya enggak berani menyerang Desa Galia. Cuma, karena gengsi, tetap aja masuk barisan, meski ya deg-deg-an.

Nah, jadi ngelantur kemana-mana, kan. Ini, nih, efek dari kebanyakan baca komik saat Mbak Samantha usia SD-SMA, dulu. Makanya temenan sama penduduk Desa Galia, dan sering pesen batu menhir. Balik lagi ke topik awal, kayaknya kece juga kalau Asterix sama Obelix pakai shibori. Apalagi seisi Desa Galia yang pakai, rame-rama gitu seperti grup paduan suara.

Udah, ah, ngelanturnya. Ntar keterusan. Eh, masih juga ada yang belum tahu di mana itu Desa Galia, dan siapa pula Asterix, juga siapa Obelix? Haduh. Sana, buruan, banyakin baca komik. Banyakin juga mantengin corat-coret artikel di website usaha jahit ini. Myehehehehe. Salam Samantha.

No tags

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.