HOW TO LOOK GEORGEOUS ? BISA TETEP KECE-PEDE DI LAPANGAN (part-2)

by

Ini tulisan kedua dari “How To Look Georgeous”. Tulisan pertama membahas sedikit tips dari Mbak Samantha agar para kawula muda Balikpapan penggiat “citizen journalist” bisa tampil kece-badai. Maka tulisan kedua, tentang sesi tanya-jawabnya saja.

Enggak kalah seru, karena Mbak Samantha dibombardir pertanyaan klasik nan kekinian. Ada yang bertanya gini, ”Kita pakai baju, awalnya sudah pede. Tapi ortu bilang kok gitu bajunya. Nah ini bikin kita enggak pede. Kita ngikutin yang mana, ni. Keinginan sendiri atau kehendak ortu?”. Wolaa, pertanyaan lumayan sulit.

Mbak Samantha, yang didapuk sebagai pembicara dalam event “Energi Muda Pertamina Balikpapan Community Meet-Up, It’s Time To Fit and Style”, pada Minggu (17/9) kemarin, bersemedi, eh, berpikir sejenak. Sebelum akhirnya menjawab.

“Kita pede aja ya, dengan baju pilihan sendiri. Setiap orang kan punya style beda. Yang penting kita tahu gimana tubuh kita, dan tahu mesti pakai baju yang gimana. Bisa jadi orang lain enggak suka style kita. Tapi sejauh kita pede, cukup,” katanya.

Selang sepersekian detik, Mbak Samantha kembali ditanya. “Kalau pakai baju hitam, bisa kelihatan lebih kurus, enggak, sih?”. Jawaban Mbak Samantha gini, “Iya, benar, kita bisa nampak sedikit lebih kurus. Tapi hitam-nya ini, tidak perlu juga diaplikasi full. Atasannya hitam, bawahan lebih terang, bisa kok,” ucapnya.

Ada lagi yang nanya, cowok suka warna gelap untuk celana, bener enggak? Secara tidak mau ribet urusan pakaian dan celana, itu mah memang DNA (hampir semua) cowok. “Tapi, warna kaki, krem, bisa juga. Itu termasuk warna ‘terang’ untuk celana. Bisa dipadu-padankan sama atasan yang warna lembut,” kata Mbak Samantha.

Lalu ada pertanyaan yang bagaimana bisa liputan outdoor agar nampak bagus penampilannya tapi enggak berlebihan alias norak. Hm. Mbak Samantha lalu sedikit cerita kalau jurnalis yang liputannya “lapangan banget”, memang rada susah untuk selalu tampil menarik. Apalagi naik motor, di mana asap bisa mendekam di serat-serat kain baju. Belum lagi bau badan. Aaaa.

Ritme kerja wartawan media, dan warga jurnalis, beda. Wartawan sebuah media, bisa dibilang agendanya bisa sangat padat, terpaku deadline. Habis waktu seharian di lapangan, capek naik motor, dan masih harus menyiapkan energi besar untuk menulis. Kalau, di citizen journalist, masih ada waktu santainya.

“Dulu, waktu saya jadi wartawan, malam hari sudah nyiapkan baju. Biasanya bawa baju cadangan, untuk jaga-jaga kalau ada acara berbeda dalam satu hari, tapi tidak sempat pulang. Bisa lho, saat pagi liputan bencana, tapi siang atau sorenya ke seminar. Kostum, idealnya kan beda,” kata Mbak Samantha yang dulu, selama hampir tiga tahun, menimba ilmu di Harian Jogja (Harjo) ini dan dua tahun sebelumnya di Bisnis News.

Untuk yang berbau lapangan, kaos, celana jeans, dan sepatu, adalah piranti wajib. Jangan pakai sandal, ya. Enggak apa selalu bawa satu potong pakaian, atau outer, di tas. Aksesoris seperti jam tangan, kalung, gelang, disesuaikan saja. Tampil simpel, akan membantu mengurangi keribetan. Penampilan, bisa diupayakan rapi.

“Sehingga ada kesan, kita menghargai siapa yang kita temui. Baik itu narasumber, juga pihak pengundang acara. Kalau kita tampil menarik, rapi, sopan, mereka akan merasa kok, bahwa kita menghargai,” ucap Mbak Samantha.
Acara yang dilangsungkan di gedung kantor Telkom, Jalan MT Haryono Balikpapan itu, juga diwarnai lomba seru-seru-an yang bikin ngakak.

Peserta dibagi dalam empat kelompok. Disediakan berbagai macam busana kreasi Mbak Samantha. Tugas mereka, menentukan satu anggota untuk didandanin. Anggota lainnya, ndandanin bergantian. Wuii.

Peserta dibagi dalam empat tema. Satu kelompok dapat tema “liputan wawancara” . Ada juga yang tema “liputan wisata”. Lalu tema “liputan bencana”. Ada yang “wawancara ekslusif”. Makin heboh karena tak hanya baju yang terpampang. Ada bedak, sisir, lipstik, dan minyak rambut. Petjah deh ruangan.

Mbak Samantha, menjadi salah satu dari dua jurinya. Terlepas dari penjurian, lomba ini menarik, ternyata. Enggak terpikirkan oleh Mbak Samantha. Seru. Salut dan salim sama panitia dan temen-temen calon jurnalis ini. Makasih juga ya, Mbak Samantha dapet piagam dari kalian. Asyik.

No tags

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.