GALERI KITA RAMAIKAN “PENJAKES” DI RUMAH CAGAR BUDAYA DAHOR

by

Setelah dua bulan lalu menggelar lapak di mal, Galeri KITA kembali menjadi peserta pameran. Kali ini bertempat di Rumah Budaya Dahor (Dahor Heritage) Balikpapan. Ini salah satu rumah jadul peninggalan Belanda lho, yang sudah berumur 80-100 tahun, dan masih dalam kondisi cukup terawat. Warbiyasa…

Galeri KITA, yang bergerak dalam lini usaha bantal handmade by order ini, adalah proyek bersama dari duo penjahit, Mbak Samantha selaku owner “Modiste Samantha” alias “Samantha Project” dengan Mbak Yuli dan Mbak Lina, yang menggawangi brand “Barakati”. Oya, alamat instagram Galeri KITA yaitu @official.kitabalikpapan.

Okay, bahas lagi pamerannya, yaks. Judul pameran pada 5-6 Mei 2018 lalu ini, adalah “Penjakes”, singkatan dari Pendidikan Jalur Kesenian. Mengingatkan sejenak pada salah satu mata pelajaran saat Mbak Samantha duduk di bangku SD dan SMP. Pelajaran yang bikin seneng jika diisi pertandingan basket atau voli, tapi bikin bete kalau cuma disuruh lari keliling lapangan.

Pameran ini, diinisiasi Forum Kreatif Usaha Sama-sama (Fokus) Kota Balikpapan. Oya intermezzo, Mbak Samantha bergabung ke forum beranggotakan pekerja seni kreatif ini, lho. Itung-itung agar bisa ikutan semakin kreatif. Kalau penasaran, wajib klik blog Fokus di alamat https://fokuskotabalikpapan.blogspot.com/

Jadi, berangkatlah kami bersama “pasukan bantal”, yang dipajang rapi di stan, di halaman rumah cagar budaya itu. Ada bantal duduk, bantal tidur, bantal leher, bantal “donat”, bantal mini, bantal seukuran guling, sampai bantal boneka. Maskot (sementara) KITA, bantal boneka bentuk (makhluk) yang enggak jelas, juga dipajang. Namanya juga maskot, masa disimpen.

Pelat besi Galeri KITA-Samantha Project yang dari tutup drum bekas oli, seberat 5 kg, tak lupa diangkut. Ngeri juga ya, ada penjahit, sekaligus pembuat bantal, yang punya plang pelat berbentuk bundar, seberat dan seheroik itu. Hehe. “Iya, pelat besinya multifungsi. Bisa juga untuk tameng, jika saya dan seisi Desa Galia mendadak diserang prajurit Romawi,” kata Mbak Samantha, merendah. Eh…

Sudah ah, ngelantur versi komik Asterix-nya. Balik ke topik… Jadi, selama dua hari pameran ini, sebetulnya lebih penuh akan nuansa haha-hihi ketimbang aktivitas jual-beli. Menjalin silaturahmi sama temen-teman seniman muda, itu agenda utama pastinya. Dan tentu saja nonton musik dari band indie lokal. Juga standup comedy, pentas puisi, dan lainnya. Keren-keren, atuh.

Mesin jahit tak ketinggalan dibawa. Tak lupa termos isi teh panas. Dua termos, malah. Show must go on, eh, maksudnya meski pameran, tetap tidak lupa eksis. Emm, eksis bersantai sih, tepatnya. Kami kan penjahit kekinian, yeay.

Bahagia rasanya bisa bikin ramai rumah cagar budaya ini. Rumah panggung yang mayoritas terbuat dari kayu ulin ini memang sungguh menawan dan eksotik. Ulin (Eusideroxylon zwageri) alias kayu besi ini, konon adalah jenis kayu terkuat sedunia. Enggak mempan digigit rayap. Kalau dicelup ke air laut dan air tawar, malah semakin kuat.

Jadi membayangkan jika suatu saat workshop Mbak Samantha ini bisa berupa rumah panggung kayu. Syukur segede ini. Terus halamannya pun luas, dihias hamparan rumput manila yang lembut, ada pohon-pohon rindang, kursi taman nan etnik, dan buku-buku novel, plus setumpuk komik.

Terus menempatkan mesin jahit di halaman, agar Mbak Samantha bisa menjahit sembari mendengar kicauan burung, suara gemerisik daun, dan menikmati indahnya daun-daun berguguran. Serta, tentu saja, melihat Kimi, kura-kura peliharaan, yang bakal ronda keliling halaman sepuas hatinya.

Cuman, kayaknya apa bisa menjahit dalam suasana terlalu “sendu” seperti itu? Emm, kayaknya sih nggak bisa. Lha wong sekarang saja, kalau menjahit dan di luar sedang hujan, bawaannya ngantuk ‘mulu. Apalagi kalau habis hujan, hawanya sejuk, dan burung berkicau di belakang rumah, bersahut-sahutan. Belakang rumah Mbak Samantha ini semacam rawa. Tepatnya rawa buatan.

Kalau kondisinya gitu, apa enggak tambah mengantuk, coba? Iya, lah. Enggak lucu juga jika tiba-tiba pelanggan datang dan melihat Mbak Samantha “mager”, terlelap sembari memeluk mesin jahit, dengan senyum tersimpul karena mimpi lagi paduan suara sama burung-burung. Ciap, ciaap, ciaaap….begitu (mungkin) suaranya.

“Mbaknyaaa, mbaknyaaa, bangun, oi, bangun…yuhuu, tuh ada pelanggan yang datang,” kata salah satu burung, dalam bahasa burung. “Bentar toh, lagi asyik berkicau nih, ciap, ciap, ciaaaap,” jawab Mbak Samantha.  Flying high, I am a bird in the sky… eh kok jadi nyanyi lagu “Eagle”-nya grup ABBA ya.

Ihik, sampai segitunya, iya. Okay, sebagai penutup, jadi, apakah sudah ada gambaran mau bikin bantal yang gimana, alias desain sendiri ? Atau bikin bantal yang ada nama-nya? Atau bantal duduk bergambar tokoh idolamu? Atau bantal mungil yang fungsinya cuma dipencet-pencet sebagai obat gemes? Segera meluncur aja ke Galeri KITA. Alamatnya sama kok dengan workshop Samantha, di Cluster Berau CB 8/14, Wika, Balikpapan, Kaltim.

Salam KITA. Kami bantal mania.

 

No tags

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.