Bincang Ramadhan SmartFM Bersama Desainer Balikpapan

by

Mbak Samantha kembali “masuk” radio. Kali ini berpartisipasi dalam acara Cafe Ramadhan bertopik “Bincang Ramadhan Bersama Para Desainer” yang diadakan oleh SmartFM Balikpapan, 11 Mei 2019 lalu. Mbak Samantha enggak sendirian karena ditemani dua kawannya sesama pegiat fashion, yakni Tyas Dani dan Putra. Serulah, pastinya.

Mereka bertiga sudah malang-melintang di jagat persilatan fashion Balikpapan selama beberapa tahun. Mbak Samantha adalah owner Modiste Samantha alias Samantha Project,  Mbak Tyas Dani pemilik Javabor, sedangkan Putra menggawangi brand Jesthink.

Mal Balikpapan Ocean Square menjadi lokasi siaran live berdurasi hampir satu jam ini. Dipandu oleh Mbak Etty penyiar senior di radio tersebut.  Ini kali kedua mereka bertiga melakoni acara bareng di tahun ini, setelah sebelumnya berpartisipasi dalam Balikpapan Fashion Night 2019, Februari lalu, yang menjadi rangkaian acara HUT Kota Balikpapan.

Mbak Samantha bercerita, dia mengawali usaha jahit dengan mengeluarkan produk busana anak tahun 2014. Setahun sesudahnya, memberanikan diri mengikuti pameran Pop Up, dan mulai mengusung nama Samantha Project. Karena respons malah datang dari kalangan para ibunya anak-anak, maka Mbak Samantha pun mengubah pangsa pasarnya.

“Nama ‘Samantha’ meminjam nama usaha jahit ibu di Yogyakarta. Nama ‘Samantha’ lalu ditambah dengan ‘Project’ karena usaha Samantha di Balikpapan tidak hanya tentang jahit baju. Mbak Samantha mengonsep Samantha Project untuk keluar “pakem”. Menjadi penjahit kekinian, garis besarnya begitu.

Menyoal baju-baju desain Samantha, dijelaskannya, adalah gender neutral, yang berarti bisa untuk perempuan maupun laki-laki. “Sebagai inspirasi, saya memang terpengaruh dan mempelajari perkembangan fashion Jepang,” kata Mbak Samantha yang sudah bisa menjahit sejak kelas 6 SD ini.

Segala sesuatu tentang Jepang, mulai dari musik, film, kuliner, hingga rancangan-rancangan desainer negeri sakura tersebut, menjadi “makanan” Mbak Samantha tiap hari. Bahkan, Mbak Samantha mulai tahun 2018, membuat sendiri sejumlah kain shibori. Juga memberi pelatihan-pelatihan dasar tentang cara membuat shibori.

Dari Samantha, obrolan berganti ke Javabor. Tyas Dani bercerita, awalnya tertarik budaya Dayak setelah pindah ke Balikpapan tahun 2009 lalu. “Saya sering main ke Plaza Kebun Sayur. Senang lihat pernak-pernik di sana. Mulai iseng bikin kalung lalu tertarik kain. Tahun 2016 saya ketemu salah satu ketua Forum Duta Wisata Balikpapan, brand (Javabor) mulai diperkenalkan,” kata Dani. 

Adapun Javabor merupakan singkatan dari Java Borneo. Dani menemukan passion-nya kala memadukan kain bermotif Jawa dengan kain bermotif Kalimantan (Borneo).

Setelah membahas Javabor, kini giliran Jestink. Pemiliknya adalah Putra, atau yang bernama lengkap Jangkung Eka Saputra.  Nama “Jesthink” yang desain-desainnya genre menswear—busana untuk cowok–ini, diambil dari inisial namanya, ditambah kata “think”.  Putra bercerita awalnya ingin membuat clothing line yang dinamakan “Think”, bersama temannya.  “Kita namakan ‘think’ karena hal yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah manusia bisa berpikir,” ujar Putra.           

Namun ide menguap karena temannya pindah ke Jakarta. Jesthink lantas berpikir mengapa tidak bikin baju sendiri. Teman-temannya ternyata suka desain Putra dan memesan. “Saat itu saya masih di Samarinda, tahun 2015. Menjalankan Jesthink 1,5 tahun di sana, lalu saya balik ke Balikpapan, pulang kampung karena juga pindah kerja,” kata Putra.

Seluruh penduduk Desa Galia yang ikut menyaksikan siaran langsung acara ini lewat radio, langsung berembug. Terbesit pemikiran untuk mengundang mereka bertiga untuk talkshow soal fashion.  “Galia harus dikenal sebagai desa yang fashionable,” begitu kata Abraracourcix, kepala suku Galia dalam pertemuan dengan warga.

Sekian lama berseteru dengan Roma, Galia memang kurang tersentuh sisi fashion-nya.  Fashion show, apalagi, jelas belum pernah digelar. Penduduk Galia kebanyakan berkutat dengan besi dan baja untuk membikin peralatan perang. “Tahun ini, warga Galia harus tampil modis di mana saja. Jadi, kalau nanti maju perang, kostum mesti bagus dan serasi,” ujar Abraracourcix.

Kode keras nih. Oke, Mbak Samantha segera pikirkan kapan bisa anjangsana ke Desa Galia. Nanti siapa tahu acaranya disiarkan radio GaliaFm, atau GaliaTV. Menunggu itu terwujud, boleh di-kepo-in rancangan baju ketiganya, juga aktivitas mereka. Mbak Samantha punya akun instagram yang beralamat di @samanthaproject dan @bleu.art.studio. Sedangkan Tyas Dani di @javabor_dani, dan Putra di @jesthink_

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.