BATIK TULIS, BATIK CAP, BATIK PRINT. PILIH MANA ?

by

Suka pakai batik? Tapi belum tahu arti dan macam-macam batik? Berarti kita mesti membuka buku dan keluyuran nyari kain-kain batik seantero negeri, nih. Siapa saja sepertinya pernah mengenakan batik, meski sebatas kostum kondangan dan hajatan. Eksotis dan bangga banget memakainya, kan? Iya, dong, harus.

Jadi, enggak ada salahnya kalau kita sedikit mengerti soal batik dan hal-hal seputarnya. Definisi batik, menurut buku “Cerita Batik” yang ditulis Iwet Ramadhan dan diterbitkan Galeri Indonesia Kaya, ternyata banyak.

Ada yang mengatakan batik berasal dari kata “amba” dan “tik” yang berarti menulis/melukis titik. Ada lagi yang mengatakan bahwa “batik” berasal dari kata “titik” yang diberi imbuhan “mba”. Dalam bahasa Jawa, imbuhan “mba” mengubah fungsi sebuah kata menjadi kata kerja. Jadi, batik diartikan sebagai pekerjaan membuat titik.

Namun kalau dilihat secara definisi, batik adalah teknik merintang atau menahan warna di atas kain dengan menggunakan malam (lilin). Ini sebenarnya teknik kuno yang sudah ribuan tahun dikenal, di seluruh peradaban dunia.

Pada mulanya peradaban Mesir kuno yang memakai teknik tersebut pada kain-kain linen pembungkus mumi. Di beberapa negara, medium yang digunakan untuk “menahan” warna, berbeda-beda. Di Indonesia, terutama di Jawa, memakai canting untuk menorehkan malam ke atas kain mori.

Berdasarkan cara pembuatannya, batik dibagi tiga, yakni batik tulis, batik cap, dan batik print. Kalau ngomongin batik-batik sebagai karya seni berkualitas nan indah, alias mahakarya, tentu itu tentang batik tulis.

Disebut batik tulis karena perintang warnanya dibubuhkan dengan cara seperti menulis (memakai canting). Konon teknik ini dibawa anak buah kapal (ABK) Laksamana Cheng Ho yang bernama Binang Oen. Mereka mendarat pertama kali di Lasem, Jawa Tengah.

Namun menurut Robyn Maxwell dalam bukunya “Textiles of South East Asia Tradition, Trade, And Transformation”, batik mungkin baru berkembang pada abad ke-17. Ciri khas batik tulis, tidak ada yang kembar (sama). Warna dan motifnya, bolak-balik, sama, karena kedua sisi kain, di-canting.

Batik cap. Batik ini berkembang di Indonesia setelah terjadi peningkatan permintaan akan kain batik pada abad ke-19. Saat itu produsen batik (tulis) mulai mencari cara memproduksi batik dalam jumlah banyak dan dalam waktu lebih singkat. Maka dibuatlah lempengan besi dengan motif batik untuk membubuhkan malam pada kain mori. Lempengan inilah yang kemudian disebut cap.

Ciri khas batik cap, antara lain, motifnya cenderung berulang, tidak banyak memiliki detail. Warnanya bolak-balik tidak sama, bagian belakang berwarna lebih redup atau tipis. Karena sudah masuk ranah produksi, kualitas kain, umumnya tidak terlalu baik.

Kemudian, batik print, yang juga disebut “kain tekstil bermotif batik”. Batik print ini muncul tahun 1970-an. Pada masa itu, batik diproduksi semakin massal, salah satunya dipicu Gubernur Jakarta Ali Sadikin yang menerapkan batik sebagai pakaian nasional.

Ciri khas batik print, motifnya sangat detil dan sangat rapi. Warnanya cerah dan sangat menarik. Namun bagian belakangnya polos, putih, dengan sedikit tembusan warna. Dan ini ciri khas yang jelas kentara: harganya paling murah.

Motif-motif serupa batik, sudah ada pada relief Candi Borobudur dan Candi Prambanan, yang berdiri sejak abad ke-8. Masih menurut buku “Cerita Batik” ini, sebuah tinjauan sejarah yang diterbitkan Bataviaasche Genootchap Van Kunsten Wetwnschapen tahun 1912 dan bernama Kitab Centini menyebutkan, pada zaman Pakubuwono V sudah ada istilah batik.

Tambah bangga bukan, bahwa kita punya kekayaan tak ternilai bernama “batik”.

Salam Samantha – 20 April 2017

No tags

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.